Jumat, 03 Februari 2012

@MENYULAM MIMPI

By : Amilah Depok 25 desember 2011-12-25

Tigi Balai,Lubuak Batingkok,Kecamatan Harau,Kab.Lima Puluh Kota,Sumatera Barat (Padang)

Aku terlahir dari keluarga kurang berada,namun aku bangga dengan papa,mama,dan kakakku. Namaku Amilah tapi orang-orang sering memanggilku Milah,entah lah apa yang membuat mereka memanggil ku seperti itu. Inilah jalan cerita hidupku,mulai dari aku kecil sampai aku yang sekarang. Masa-masa indah yang ku lewati dengan senyuman,tawa,dan air mata.

Masa kecilku banyak kulewati dengan ibu ku. Pernah sewaktu aku berumur 4 tahun aku bertanya pada mama “ma,kenapa nama ku Amilah ?” mama hanya diam sambil tersenyum dan seraya menjawab “itu nama yang bagus,tidak akan ada orang lain yang punya nama seperti yang kamu punya” . Dikampung dimana aku di lahirkan aku mempunyai seorang teman nama nya Syahrul yah dialah teman masa kecil ku di waktu umurku 4 tahun. Di depan rumah ada sebuah batu yang konon kata mama itu ditinggal oleh orang yang sedang membuat jalan raya yang persis di depan halaman,di depan halaman juga tumbuh sebatang pohon seri yang sangat rindang saking rindang nya orang-orang banyak yang melepas lelah di bawah pohon tersebut. “Syahrul kita main lidi* yuk “ kataku pada nya yang sedang asik main batu di depan rumah “g ah aku capek,! main aja sendiri” mendengar dia bicara seperti itu aku langsung nangis,maklum aku waktu kecil orang nya cengeng suka nangis kalau kemaua ku tidak di turuti heheheh

Aku dan Syahrul bagaikan dua saudara kembar yang tidak bisa di pisahkan,di mana ada dia disana pasti ada aku. Malah orang-orang sering bilang “ami pacaran ya sama Syahrul” dengan wajah malu dan polos aku hanya bilang “tidak”. Setiap pagi saat aku baru bangun Syahrul sudah datang dan ngajakin main bareng,kita sering berdua main kelereng,lidi dan juga congkak,saat dia ngajakin main aku nya mau aja,tapi mama selalu ngomel dan bilang “ami makan dulu..!!! baru habis itu main “ aku sering tidak menggublis perkataan mama “iya ma..” sambil lari sama Syahrul pergi main.

Suatu hari Syahrul tidak pernah lagi main kerumah,aku pun nanya ke mama “ma,Syahrul kemana ya,kok tidak pernah lagi main sama Mi” mama pun menjawab dengan wajah bingung “kan Syahrul sudah pindah lagi kerumah lamanya...” ya rumah yang di tempatinya bukan rumah aslinya melainkan rumah nenek nya dia cuman nginap selama enam bulan disana. Jengjengjengjeng aku tidak bisa berkata-kata lagi mendengar perkataan mama (eaaa lebai). Sejak saat itu aku hanya main sendiri tampa punya teman satu pun. Yah tiap pagi aku hanya berharap Syarul datang dan mengayak main bersama,tapi entah lah sampai saat ini aku tak pernah berjumpa dengan nya lagi..teman masa kecil ku. Suatu hari nanti tak tahu kapan mudah-mudahan kita dapat bertemu dan bertatap muka lagi.. Sahabat ku Syahrul i miss you.

**

Tahun pun berganti sekarang aku beranjak enam tahun,yah umur yang waktu itu aku harus masuk TK. Diumur enam tahun entah kenapa aku anak yang sangat suka membentah perkataan mama,perna waktu itu siang hari aku bangun tidur dan aku tak menemui mama di di rumah,aku menangis,merontak,dan memaki mama. “mama!!!! Mama di mana (menangis ddengan kecang nya) mama!!!!” mama datang datang “ya ami mama disini,mama tadi dari kebun ngambil daun singkong” yah daun singkok makanan yang sering dibuat mama untuk kami makan sekeluarga,selain murah,itu dapat mudah di temui di depan rumah kami yang notabene masih perkampungan yang belum maju.

Hari-hari ku ku lalu dengan teman TK ku nama nya Yuliana Putri ya dia teman TK ku dan aku memanggilnya Uli. Kita sering main petak umpet bersama biasanya kalau aku main kerumah nya kita sering main dengan Ni Mila kakak nya kandung nya Uli,Bia,Era,Da Eka,Sadek,Ni Opi,Da iwang dan masih banyak yang lain nya.

Sepulang sekolah melewati rumah Nek Darihan “Mi ntar kita main bareng ya,o ya makan aru-aru* deh sekalian di atas pohon saus” aku menjawab sambil memegang buah manggis yang sering kita cari di dekat rumah Neek Daarihan,ya nek Darihan mempunyai batang manggis yang sangat banyak “ya,,tapi temanin aku pulang dulu ya li...” “ ya ami” balas Uli sambil lari,dan aku mengejarnya.

Sampainya di rumah aku ganti pakaian dan Uli menunggu di depan rumah sambil mainin kucing kesayangan ku. Kita makan bareng di atas batang saus yang kita rencanakan tadi.batang saus itu batang saus yang di tanam nenek sumbangsih dari kepala desa karna nenek menang lomba kebersihan lingkunga. Kita makan dengan gembira di atas sana sambil di temani kicauan burung dan angin sepoi-sepoi yang mengusir gerah dari badan kami. “Ami awas ada ular...!!” teriak Uli seraya menunjuk ke salah satu dahan di samping ku “mama!!!teriak ku sambil menangis..” dengan spontan aku melompat turun. Mendengar teriakan ku Kak Netin,ya begitu sebutanku ke mama nya Uli “kamu kenapa..??” “tadi ada ular....” saut ku sambil menangis “sudah jangan nangis lagi ular nya udah nggak ada kan...ayo air mata nya hapus” kata Kak Neti mama nya Uli.

Karena kejadian itu kita jadi beralih main boneka di dalam rumah nya Uli, tau nggak? Boneka yang kita maksud bukanlah boneka yang biasa nya kita lihat di TV yang di mainkan anak-anak kota,tapi kita membuat nya dari handuk yang digulung-gulung dan kemudian kita balut kain lain sebagai baju nya. “ami aku jadi mama ya...kamu anak nya” kata Uli sambil mengulung-gulung handuk yang akan kita jadikan boneka “iya ....” jawab ku pelan karena masih trauma dengan ular yang di pohon tadi. Kita main sampai jam lima,aku pun pamit pulang karena mama sudah pulang kongsi* dan aku pulang bareng mama sambil boncengan di atas gerabak yang dibawa nya dari sawah.

***

Bulan puasa pun datang,entah kenapa datang nya puasa sangat aku tunggu-tunggu,mungkin karena,kalau lagi puasa mama selalu bikin makanan yang lebih enak dari biasanya. Hari-hari biasa mama selalu sering bikin gulai daun singkong atau di kampung sering di sebut “gulai pucuak ubi”. “Mama lagi bikin apa buat buka puasa” kata ku di samping pintu dekat dapur. “Mama lagi bikin gulai ikan sama pucuak ubi” saut mama sambil meremas-remas daun singkong. Ya begitu lah mama apa-apa selalu dicampur daun singkong tidak keong,tempe,tahu sampe-sampe paku* juga yang sama-sama sayur. “o ya ma kolak nya g ada ya” kata ku sambil membuka tuduang* makanan, “ya nanti kita beli sama anak garendong aja ya...kamu mau apa” kata mama sambil memasukkan kayu bakar ke tungkuan “ aku mau kacang padi aja ma” kata ku seraya masuk kedalam rumah lagi.

Tiap sore seraya menunggu beduk,saya sering menghabiskan waktu dengan menonton siaran di TV bersama uli di warung ni Sika. Ya kami kalau ingin nonton harus kesana dulu,karena tau sendiri TV langka di kampung kami. Saya ingat sekali judul sinetron waktu itu yang sering kita tonton “JAMILAH” dan “UNYIL” . saat akan mulai nya sinetron JAMILAH saya kabur pulang karena orang-orang di warung sering meledek saya dengan panggilan itu,karena nama saya tinggak” J” nya dan itu leddekan itu membuat saya tidak nyaman. O iya asaya hampir lupa acara TV yang biasa juga kita lihat sore hari yaitu “betty lavea” yang mempunyai kacamata besar dan bulat.

Bulan puasa tidak terasa tinggal lima hari lagi. Banyak sekali petasan-petasan yang di main kan anak-anak kampung. Petasan yang mereka gunakan petasan dari bambu yang kemudian di di masukkan kain yang sebelumnya di kasih minyak tanah. “mama !!!!” tangis ku kencang “apa????” teriak mama dari dapur. “liat uda main bodie-bodie botuang*...suruh berentiin..!!!” yah aku tidak suka dengan mainan bodie-bodie botuang yang sering di main kan abang ku,karena itu sering membuat ku kaget. Abang ku memainkannya di belakang rumah,mengarah ke rumah Sadek yang hanya berbatasan dengan se buah sawah. “oce....!!!” mama memanggil abang ku dengan sebutan oce “....udah hentikan maian nya.kasian tu ami di nangis karna takut..” kata mama. “ ya ma...” kata abangku sambil membereskan alat untuk membuat petasanya. Sambil masuk kerumah,di dekat dapur abang ku meledek “Kau bingguang.....” katanya sambil mencibir,dan tu membuat ku menangis lebih kencang.ahaaa itu dengan maksut agar mama memarahi abang ku,daaan taktik ku berhasil,abang ku di marahi.

Tapi diluar itu semua aku sangat sayang pada abang ku,karena kita sering makan bersama dan yang paling aku ingat sewaktu kita makan air didiah*. Waktu itu masa abang ku bilang “bagian sana punya kau,dan bagian sini punya abang...” tau g? Dalam satu mangkok masak batasnya cuman dikasih garis,dan udah habis itu kita makan. Ya udah otomatis siapa yang makan nya banyak dan cepat dia yang kebagian banyak,dalam hal ini aku selalu memperoleh bagian yang paling sedikit karena aku makan nya lama. Tapi walaupun seperti itu tabi’at abang ku aku tetap sayang dia. Pernah sore hari kita membuat baling-baling dari kertas dan abang membonceng ku naik sepeda sambil aku memegang baling-baling nya,kita mutar-mutar dari rumah terus lewat belakang melalui rumah Sadek, Uli,dan rumah Rahman-Rahmat kemudian sampai di jalan raya,dan akhirnya sampai di rumah lagi. Yah itu masa-masa yang akan selalu aku ingat meski kayak nya abang ku lupa.

Idul Fitri pun tiba,hari kemenangan yang sering di tunggu-tunggu umat islam di seluruh dunia,dan ma’af aku lupa itu hari raya tahu keberapa. Tiap hari raya kita tidak pernah absen untuk membuat kue maloyang*,loyang*, bainai*,dan yang lain nya di bikin kalau uang nya masih nyisa kalau tidak ya sudah berarti cukup segitu kita bikin kue nya. Masih jelas di ingatan ku mama membelikan baju dari seorang tukang kredit,ya begitulah kami..kalau mau beli baju ya kredit jarang sekali yang langsung di bayar lunas. Sehabis sholat ID biasa nya Mak ebi paman ku dan anak-anak nya berkunjung kerumah untuk silahturahmi.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar